Tradisi bersih desa merupakan slametan atau upacara adat jawa untuk memberikan sesaji kepada danyang desa. Tradisi bersih desa dilakukan untuk membersihkan desa dari roh-roh jahat yang mengganggu. Tradisi ini dilakukan setiap bulan sela atau syawal yaitu pada bulan ke-11 kalender jawa.
Di daerah Kabupaten Blitar sendiri masih menggunakan tradisi bersih desa ini, yaitu di Desa Krisik Kecamatan Gandusari. Tradisi bersih desa juga disebut sebagai tradisi sedekah bumi yang pelaksanaannya diikuti oleh seluruh masyarakat desa. Biasanya kegiatan bersih desa dilakukan di punden atau di rumah kepala desa. Namun di Desa Krisik adat ini tidak hanya dilakukan di pundhen saja akan tetapi juga dilakukan di situs candi Rambut Monte.
Candi Rambut Monte ini konon merupakan peninggalan sejarah kerajaan Hindu zaman dahulu, karena dalam candi tersebut terdapat relief berbentuk kala yang terdiri atas kepala kala I, kepala naga I, dan lapik IV. Di sekitar situs candi Rambut Monte tersebut juga dikelilingi oleh beberapa pohon besar dan juga terdapat sebuah kolam yang memiliki mata air berwarna biru. Di dalam kolam tersebut terdapat beberapa ekor ikan dewa (sengkaring) yang mana ikan tersebut dapat bertahan hidup selama setahun tanpa makan. Kolam Rambut Monte juga merupakan bagian dari tradisi atau upacara bersih desa.
Tradisi bersih desa di desa krisik sendiri dilaksanakan secara turun temurun. Tahapan atau prosesi tradisi ini diawali dengan 1) Nyadran 2) Doa bersama lintas agama 3) Selamatan Manggulan 4) Pementasan Seni Langen Beksan Tayub 5) Parade budaya Kirab Jolen 6) Pementasan Wayang Kulit 7) Mruwat Murwakala.
Nyadran adalah upacara memohon izin kepada sesepuh Desa Krisik sebelum melaksanakan upacara. Pelaksanaan ritual ini awalnya dilakukan di Candi Rambut Monte kemudian ke Makam Mbah Sukoboyo, serta Pundhen Watu Dakon.
Doa bersama lintas agama dilakukan di situs Candi Rambut Monte, namun hanya bagi masyarakat yang beragama Hindu saja yang dihadiri pula oleh kepala desa. Doa bersama ini dipimpin oleh orang yang disucikan dari kelompok keyakinan tersebut. Sedangkan bagi agama lain seperti masyarakat yang beragama islam melakukannya di masjid.
Selanjutnya adalah Selamatan Manggulan, yang biasa dilaksanakan dibrumah kepala Desa Krisik yang diikuti oleh beberapa warga Desa Krisik. Usai kegiatan ini dilanjutkan dengan acara Kesenian Tayub sebagai ungkapan rasa syukur atas kehadiran Tuhan Yang Maha Esa dengan media bersih desa.
Parade Budaya Kirab Jolen atau biasanya disebut dengan iring-iring oleh masyarakat Desa Krisik merupakan tradisi membawa membawa seluruh ubo rampen untuk selametan menuju Pundhen. Dalam kirab ini Jolen dipikul oleh beberapa perangkat desa beserta jajarannya yang menggunakan pakaian adat jawa. Jolen tersebut dibawa menuju situs Rambut Monte yang dimaksudkan sebagai sesaji ke dalam sumber air di kolam Rambut Monte tersebut. Selanjutnya ada kegiatan kenduri yang dilaksanakan di depan Candi Rambut Monte yang didahului dengan doa oleh sesepuh kepada dhanyang di petilasan Rambut Monte, sebagai bentuk penghormatan kepada roh nenek moyang yang berjasa sebagai pendahulu di Desa Krisik tersebut. Setelah acara kenduri selesai kemudian dilanjutkan dengan acara Tayub yang ditampilkan di depan candi dan konon dipercayai sebagai kesenian yang disukai oleh dhanyang Rambut Monte.
Acara selanjutnya adalah Wayang Kulit yang dilaksanakan semalam suntuk dan esoknya dilanjutkan dengan Ruwatan yang merupakan kegiatan untuk membersihkan diri atau upaya untuk menghindarkan sesuatu kesulitan yang mungkin akan diterima seseorang dalam kehidupannya. Sesajen yang dibutuhkan dalam ruwatan berupa nasi, jenang, jajan pasar, benang lawe, berbagai unggas sepasang tuwuhan, kemenyan, kain mori putih panjang, kain batik 5 helai, padi segeneng, aneka rujak, sajen buangan, air tujuh sumber, aneka umbi-umbian, aneka peralatan pertukangan, pertanian, perabot rumah tangga dan sebagainya.
Sumber : Wikipedia dan Jurnal Penelitian Agama Hindu (TRADISI SEDEKAH BUMI DI DAERAH DESA KRISIK KECAMATAN GANDUSARI KABUPATEN BLITAR)
Ika Septi Nurul Arini/1888201025/Universitas Nahdlatul Ulama Blitar/Pendidikan Bahasa Indonesia/Untuk Memenuhi Tugas Penilaian Tengah Semester Sastra Daerah.

Komentar
Posting Komentar