Asal-usul Rambut Monte
Tempat Wisata Telaga Rambut Monte berada di Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Indonesia. Membutuhkan waktu sekitar 1 jam dari pusat kota Blitar. Rute jalur yang bisa dilalui yaitu Blitar - Garum - Talun - Wlingi - Desa Semen - Tulungrejo - Krisik. Sudah ada petunjuk jalan untuk mengantarkan siapapun yang ingin melihat pesona telaga ini.
Akses jalan menuju lokasi wisata Telaga Rambut Monte sudah beraspal baik meski mendekati lokasi banyak bagian aspal yang rusak, namun masih dalam skala wajar untuk kendaraan. Akses jalan bisa dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.
Tempat wisata Telaga Rambut Monte dibuka menjadi tempat wisata sejak tahun 1976 dan dikelola swasta. Pada tahun 1996 tempat wisata ini dikelola oleh pemerintah daerah. Dulu Telaga Rambut Monte tidak seluas sekarang. Dengan berakhirnya G30S/PKI pada tahun 1965, telaga ini dilebarkan oleh mantan-mantan tahanan PKI yang masih hidup.
Nama Rambut Monte tentu sangat unik jika didengar. Berikut adalah beberapa hal yang menjadi asal mula telaga ini diberi nama Rambut Monte.
Dari segi legenda : Pada jaman Majapahit, ada seseorang bernama Mbah Monte yang berperang melawan rahwana dan seekor naga yang kemudian dikutuk menjadi Candi Rambut Monte. Telaga yang berada di bawah candi inipun diberi nama Telaga Rambut Monte, mengikuti nama candi.
Dari segi alam : Keluarnya sumber air dalam telaga berupa gelembung-gelembung udara yang panjang menyerupai monte, sehingga disebut Rambut Monte.
Dari segi mistis : Mbah Rambut Monte beserta Mbah Ratu Bakah adalah tetua penunggu telaga, sehingga telaga tersebut dinamakan Telaga Rambut Monte. Sehingga pada hari Jum'at Legi, Jum'at Kliwon dan Selasa Kliwon, siapapun bisa mengadakan ritual perorangan di candi untuk ujub pribadi.
Candi yang berada di lokasi wisata Rambut Monte merupakan peninggalan kerajaan Majapahit (hindu) yang berfungsi sebagai tempat sembahyang, ritual, sadranan, dan tempat slametan bersih desa. Candi tersebut juga digunakan sebagai tempat sembahyang masyarakat hindu dari berbagai daerah seperti Palembang, Madura, Lombok, dan masih banyak lagi. Bukan hanya umat hindu saja, tapi umat lainpun banyak yang datang ke situs ini untuk ritual ataupun semedi.
Candi Rambut Monte yang berbentuk monyet dan batu relief nagapun dikaitkan dengan cerita Mbah Monte. Mbah Monte dari Majapahit bertempur melawan Rahwana dan seekor naga dimana akhirnya dimenangkan oleh Mbah Monte. Akhirnya Mbah Monte mengutuk keduanya menjadi candi.
Candi Rambut Monte ini sudah tidak berbentuk (tidak sempurna) karena terkena dampak letusan gunung kelud sehingga bebatuan candi tersebut berhamburan kemana-mana. Namun masyarakat mencoba mengumpulkan sisa-sisa bebatuan candi yang masih ada dan dikumpulkan menjadi satu di situs ini. Susunan candi itu sendiri terdiri atas
1. Bagian kepala 1 (atas)
2. Kepala naga 1
3. Batu lapik 4 (bawah)
Berdasarkan apa yang dikatakan oleh narasumber bahwasannya perawatan dari candi tersebut adalah dengan cara menyikat seluruh bagian candi setiap hari kecuali hari sabtu dan minggu.
Ketika orang-orang bersembahyang di candi ini mereka membawa seperangkat alat sajen yang terdiri dari kendi kecil, suri (sisir), dan lain lain. Tapi tidak semua orang membawa seperangkat alat sajen tersebut, hanya orang-orang yang masih mempercayai kepercayaan tersebutlah yang membawa.
Ketika ada acara bersih desa di situs candi ini biasanya diliput oleh stasiun tv. Acara tersebut dilaksanakan pada hari jum’at legi bulan selo (Dzulqo’dah) setelah lebaran.
Kolam yang ada di situs ini juga termasuk dalam rangkaian candi Rambut Monte. Misalnya ketika masyarakat hindu ada upacara besar seperti udalan, mereka mengambil air dari kolam Rambut Monte tersebut dan dibawa pulang. Banyak pula orang yang percaya bahwa air dari kolam tersebut dapat digunakan sebagai pengobatan atau memperlancar usaha, namun kebanyakan orang yang mempercayai hal tersebut adalah orang-orang dari luar daerah.
Dalam kolam Rambut Monte dihuni oleh beberapa ikan, ikan itu disebut sebagai ikan sengkareng atau hiu air tawar. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai ikan dewa, karena ikan itu bisa bertahan hidup selama 1 tahun tanpa makan. Ikan tersebut dikatakan hanya ada di kolam Rambut Monte itu saja.
Ikan Sengkaring termasuk ikan yang dikeramatkan di berbagai daerah. Di Jawa Timur, ikan purba yang hampir punah ini hanya ditemui di dua lokasi yaitu Pemandian Banyu Biru Pasuruan dan Telaga Rambut Monte Blitar.
Ada beberapa mitos yang menjadi asal mula adanya Ikan Sengkaring di Telaga Rambut Monte, yaitu :
Ikan Sengkaring adalah wujud dari murid Mbah Monte yang dikutuk karena tidak melakukan perintah, yaitu menjaga Candi Rambut Monte.
Ikan Sengkaring adalah wujud dari prajurit-prajurit Majapahit yang dikutuk.
Kedua cerita mitos itu selalu jadi bumbu cerita asal mula adanya Ikan Sengkaring di tempat wisata Telaga Rambut Monte meski tidak ada literatur sejarah yang mengulas tentang'nya di sekitar area. Jadi, jangan pernah berfikiran untuk membawa alat pancing ikan di telaga ini.
Dulunya kolam Rambut Monte tersebut hanya berupa sumber kecil yang hanya pada bagian mata airnya yaitu air yang berwarna biru dan oleh masyarakat sekitar dilebarkan sehingga menjadi seperti sekarang ini. Di situs Rambut Monte ini juga terdapat beberapa pantangan yang harus dipatuhi oleh setiap pengunjung yaitu tidak dibolehkan mengambil ikan yang ada di dalam kolam, berbicara kotor, dan tidak boleh jail. Karna dulu pernah ada kejadian ada seseorang yang jail mencoba melempari ikan dengan batu dan akhirnya si pelempar tersebut merasakan sakit setelah sampai dirumah.
Demikian sedikit pengetahuan tentang situs wisata Rambut Monte, semoga bermanfaat dan menambah sedikit pengetahuan tentang Candi Rambut Monte. Artikel ini saya tulis untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Sastra Daerah/Ika Septi Nurul Arini/offering 3A/Progam Studi Pendidikan Bahasa Indonesia/Universitas Nahdlatul Ulama Blitar.




Komentar
Posting Komentar